News Update :

Terpopuler

KABAR PKS MAJALENGKA

ir. Ridho Budiman Utama : 2016 Ajuan Proposal Masyarakat Harus Masuk RKPD Online

Selasa, 24 Februari 2015

Ridho Budiman saat melakukan reses di Mie SP jl. KH. Abdul Halim Majalengka, Senin (23/2)
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ridho Budiman Utama menggelar reses lebih awal di tahun 2015 ini. Pasalnya, Pemprov Jawa Barat akan menghadapi tahun anggaran baru melalui Musrenbang tingkat Provinsi Jawa Barat.

"Jadi Reses I tahun sidang 2015 sengaja dimajukan ke 20-27 Februari 2015 agar bisa menampung aspirasi dari hasil Musrembang," ujarnya di Mie SP Jalan KH. Abdul Halim Majalengka. Senin (23/2).

Menurutnya, hasil jaring aspirasi masyarakat melakui reses untuk tahun anggaran 2016 harus di ajukan melalui RKPD Online, yaitu suatu sistem online untuk menyimpan data usulan berupa proposal dari masyarakat.

"Masyarakat bisa mengaksesnya di situs yang beralamat di http://rkpdjabaronline.jabarprov.go.id," katanya.

Biasanya ajuan dari masyarakat berupa proposal secara manual, akan tetapi untuk tahun anggaran 2016 akan menggunakan sistem online yang mampu menampung data ajuan dari masyarakat sampai tahun 2100.

"Di Provinsi ada server yang mampu memuat usulan sampai tahun 2100, semua masyarakat bisa mengaksesnya", ujar wakil rakyat yang kini duduk jadi Ketua Komisi II.

Setiap tahunnya, provinsi menerima proposal sebanyak 250.000 berkas, sedangkan yang disetujui hanya sekitar 50.000-an. Nasib proposal yang tidak bisa diakomodir akan menjadi sampah, sebab untuk tahun berikutnya harus mengajukan proposal baru. Jadi, menurutnya, dengan sistem online ini semua berkas harus 'di-scan' menjadi file digital dan di-upload ke situs RKPD Online. Kelebihannya, masyarakat tidak harus datang ke provinsi untuk mengantarkan berkas proposal. Ini sangat membantu, terutama untuk daerah-daerah yang jauh dari ibukota provinsi Jawa Barat.

Adapun pengajuan bantuan untuk masyarakat harus terukur penggunaannya, menurut Kang Budi, sapaan akrab Ridho Budiman Utama, usulannya harus berupa pengadaan secara fisik, tidak berbentuk seminar, pelatihan, maupun bantuan modal agar mudah di setujui sesuai dengan peraturan yang ada. (hms)


Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Majalengka | Dari Kota Angin, Bekerja untuk Indonesia )|(

"Mengevaluasi Efek Tarbiyah Kita"

Sabtu, 21 Februari 2015

Oleh Mohammad Irfan*
1. Tarbiyah itu bermakna; tumbuh, berkembang, merawat

2. Artinya Tarbiyah itu selalu menghasilkan yang lebih baik dari waktu ke waktu

3. Dalam konteks Dakwah, Tarbiyah itu harusnya punya dampak perubahan (taghyir) dan mewarnai (shibghah)

4. Perubahan atau warna pada pribadi, keluarga, masyarakat, aturan/hukum, Negara dan dunia (tertib amal dakwah)

5. Jadi secara manhaj, Tarbiyah itu bukan hanya sekedar membentuk Pribadi Muslim, tetapi juga merubah masyarakat dan negara

6. Manhaj Tarbiyah 1433 Hijriyah adalah Manhaj terkini, sudah melalui evaluasi manhaj-manhaj sebelumnya…

7. Waktu Saya baru Tarbiyah di awal 1990-an Manhaj Tarbiyah kita baru mengenal T1 dan T2

8. T1 itu untuk Materi Tarbiyah dlm membentuk Syakhsiyah Islamiyah, T2 itu untuk Materi Tarbiyah dlm membentuk Syakhsiyah Daiyah

9. Coba deh lihat lagi Buku Materi Tarbiyah susunan DR Irwan Prayitno, itu memuat materi T1 dan T2…

10. Di Manhaj 1433 H, Visi Tarbiyah sudah berkembang dan mencoba menjawab tantangan dakwah masa kini

11. Bukan sekedar membentuk Syakhsiyah Islamiyah dan Daiyah saja tetapi lebih dari itu

12. Visi Tarbiyah 1433 H mengharapkan aktivitas tarbawi mampu menghasilkan kader yang Rabbani

13. Misi Manhaj Tarbiyah diarahkan untuk aktivitas kaderisasi dalam rangka:

14. Membentuk Syakhsiyah Islamiyah yang memiliki kekokohan iman, ilmu dan amal

15. Membentuk Syakhsiyah Daiyah yang mampu menjadi Murobbi dan beramal jama’i

16. Membentuk Syakhsiyah Ijtimaiyah yang memiliki keahlian, kepedulian dan menjadi tokoh di masyarakat

17. Syahkhsiyah Dauliyah yang memiliki wawasan global dan menjadi pelopor perubahan dan negarawan

18. 4 Misi Manhaj Tarbiyah diatas sudah komprehensif mencoba menjawab tantangan dakwah masa kini

19. Namun dalam implementasi dan efeknya apakah sudah seperti yang diharapkan???

20. Mutabaah Yaumiyah; Sholat di Masjid, Tilawah, Al Matusrat, Shaum, Dhuha, QL,dll aktivitas yaumiyah adalah urusan sejak diawal tarbiyah

21. Ibadah Yaumiyah adalah basis amal soleh kita, basis pertahanan spiritual kita sebagai kader dakwah…dan itu sejak awal tarbiyah ditempa

22. Namun substansi Ibadah Yaumiyah kita lama kelamaan berubah menjadi sekedar ritual mutabaah dan bersifat kuantitatif…

23. Sekedar isi form-form Tarbiyah untuk memenuhi derajat kuantifikasi kualitas kader…

24. Form-form itu adalah alat evaluasi, bukan kualitas ibadah itu sendiri…kualitas kader tidak serta merta bisa diukur dengan angka2…

25. Kadang halaqoh kita hanya sekedar berasyik dengan persoalan pribadi kita masing-masing ditengah persoalan ummat yang demikian dahsyatnya

26. Status “ikhwah” atau “akhwat” dalam persepsi Tarbiyah disandang selama dia aktif dalam halaqoh…

27. Apakah dia berkontribusi dalam dakwah kadangkala tidak menjadi ukuran lagi, apalagi yang sudah menyandang kader “assabiqul awwalun”…

28. Padahal pemenuhan Amal Yaumiyah adalah hanya tahap awal dari implementasi Misi Manhaj Tarbiyah yaitu membentuk Syakhsiyah Islamiyyah…

29. Tiga misi lagi yang harus di implementasikan; membentuk Syakhsiyah Daiyah, Syakhsiyah Ijtimaiyah dan Syakhsiyah Dauliyah…

30. 4 Misi pembentukan Syakhsiyah ini integral,tdk bisa pisah,pisah sama saja dg “sekulerisasi tarbiyah”,memisahkan Tarbiyah dg realita

31. Perintah Sholat tdk pernah lepas dr Perintah Zakat & Infaq, Artinya ubudiyah kita harus punya dampak muamalah/dunia realita

32. Tetapi kebanyakan “mindset” kita sebagai kader Tarbiyah belum tumbuh dan berkembang

33. Kader Tarbiyah yg jadi anggota LMK, Ka RT/RW, Kades, Ka Posyandu, Ka PKK ternyata blm dihitung mjd muwashoffat Tarbiyah yang signifikan

34. Menjadi tokoh public perlu kemampuan dan pengorbanan juga…

35. Jadi Ka RT & jadi Ustadz yang ceramah sana-sini scr manhaj punya manfaat & efek ke masyarakat tapi mungkin status Ustadz lebih mentereng

36. Padahal kader Ka RT bisa jadi lebih punya pengaruh signifikan kpd perubahan masyarakat drpd Ustadz yang ceramah dari mimbar ke mimbar

37. Tdk bermaksud membandingkan Ustadz dg Ka RT,tidak apple to apple,tapi kalau ada misi Syakhsiyah Ijtimaiyah, maka persepsi kita hrs tumbuh

38. Dlm konteks manhaj,kader Robbani kesolehannya harus juga masuk dalam wilayah masyarakat & Negara,bahkan harus menjadi pelopor perubahan

39. Namun porsi di halaqoh dalam menginisiasi perubahan di masyarakat kecil…

40. Qodhoya wa Rawa’I kita lebih banyak pada persoalan-persoalan personal kita, belum banyak menyentuh dalam menginisiasi perubahan…

41. Bahkan banyak juga Kader yang alergi kalau evaluasi isinya banyak membahas program2 dakwah di masyarakat, ngabisin waktu halaqoh katanya

42. Padahal Halaqoh adalah bertemunya para kader selain dalam ikatan ukhuwah tapi juga dalam rangka berkonsolidasi untuk merubah masyarakat

43. Kalau Halaqoh hanya sekedar meningkatkan kesholehan pribadi,tanpa kesolehan sosial sama saja kita sdg melakukan “sekulerisasi tarbiyah”

44. Hasan Al Banna bangun dakwah tarbiyah punya visi “proyek perubahan” : efek yg diharapkan dr dakwah tarbiyah adalah perubahan (Taghyir)

45. Era partai,peran2 perubahan di masyarakat diserahkan ke struktur Partai, seakan2 melayani & merubah masyarakat adl urusan pengurus Partai

46. Terjadilah lagi pemisahan peran-peran dakwah menjadi terkotak-kotak…

47. Ada kader struktur dan kader non-struktural…ada kader tarbawi dan kader siyasi…”sekulerisasi tarbiyah”

48. Padahal dalam 4 Misi Manhaj Tarbiyah Kader Robbani itu adalah dia punya Syakhsiyah Islamiyah dan Daiyah, dia juga punya kepedulian

49. Dan menjadi tokoh di masyarakat dan dia juga seorang pelopor perubahan dan sekaligus juga seorang politisi dan negarawan…

50. Kalau pemisahan terjadi karena faktor kemampuan & spesialisasi oke saja,tetapi kerangka koordinasi & amal jama'i bkn ijtihad personal

51. Karena kalau ijithad personal maka akan terjadi kecemburuan dalam bangunan dakwah kita…

52. Tarbiyah kita harus sdh mulai bahas hal2 yang lebih progresif utk kemaslahatan ummat…

53. Tidak lagi hanya sekedar membaca Risalah Pergerakan tanpa mempunyai rencana eksekusi di lapangan…

54. Ketika membaca Risalah Pergerakan seharusnya apa yang dibaca itu menjadi referensi utk mengeksekusi proyek2 perubahan di masyarakat

55.Kalau cuma sekedar baca & diskusi Risalah Pergerakan tanpa ada eksekusi lapangan percuma…hanya jadi kitab diatas kertas asaja

56. Sekedar lembaran-lembaran tanpa arti…

57. Padahal Risalah Pergerakan adl stimulasi yang penting utk merencanakan proyek2 perubahan di masyarakat…bukan sekedar bagian agenda ritual

58. Ketika setiap Halaqoh punya wilayah garapan dakwah baik yang teritorial ataupun segment, maka dakwah ini akan tumbuh dan bergulir…

59. Targetnya adalah “perubahan”, bukan sekedar “suara" pemilu

60. Dakwah akan tetap menjadi pemenang ketika dengan dakwah ini semakin banyak orang yang kembali ke jalan Allah

61. Al Islamu Qobla Jamaah…(Menyeru Islam sebelum menyeru pada organisasi)...salah satu prinisp dakwah...

62. Halaqoh muntijah bukan sekedar menjadikan adho didalamnya sholeh dan sholehah saja, kalo itu saja maka baru ¼ tarbiyah…

63. Halaqoh secara manhaj tarbiyah harus bisa menghasilkan kader pelopor perubahan dimana saja mereka berada,dalam situasi dan kondisi apapun

64. Tarbiyah ini harusnya melahirkan kader militan, yang giat bermanuver utk pengembangan dakwah dan juga memiliki pengorbanan yang tinggi…

65. Tdk cengeng dan stagnan,hanya senang di “comfort Zone” dan berasyik dg kesolehan sendiri tapi mengabaikan kerusakan di masyarakat…

66. Halaqoh bukanlah sekedar tausiyah, talaqqi madah, mutabaah yaumiyah, qodhoya rowa’i….

67. Halaqoh adl sarana utk menghasilkan kader seperti Mus’ab bin Umair yang pergi ke Madinah utk menaklukkan Madinah dalam pangkuan hidayah…

68. Halaqoh idealnya melahirkan kader yang siap turun ke lapangan menjadi fasilitator hidayah Allah untuk ummat…tanpa menunggu perintah

69. Tanpa menunggu taklimat dan tanpa jabatan structural…

70. Halaqoh bukan sekedar merencanakan program yaumiyah kita, program tarbiyah ailiyah kita…tapi juga merencanakan program-program perbaikan

71. Merencanakan program-program perbaikan pemuda dan masyarakat dari akhlaq jahiliyah, dari fikroh ngawur dan dari aqidah sesat…

72. Ketika Halaqoh sekedar memenuhi target kesolehan pribadi tanpa menjadi pelopor perbaikan di tengah-tengah masyarakat

73. Maka pada saat itulah Halaqoh berlari dari dunia amalnya….

*sumber: http://chirpstory.com/li/251199

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Majalengka | Dari Kota Angin, Bekerja untuk Indonesia )|(

"Mengapa Harus Salah, HTI?"

"Mengapa Harus Salah, HTI?"

Oleh Yusuf Maulana
(Kolomnis Islampos, tinggal di Yogyakarta)

DARI seorang aktivis dakwah saya mendapatkan berita itu: sebagian petinggi Hizbut-Tahrir Indonesia (HTI) di Yogyakarta memilih Joko Widodo sebagai calon presiden. Berita yang nyaris tidak saya percaya sampai saya harus meminta sang aktivis itu bersumpah. Berita itu diperolehnya dari salah satu petinggi HTI Yogyakarta. Walaupun secara jamaah dan pribadi si petinggi itu memilih golput, beberapa koleganya di HTI mendukung Jokowi. Sebuah putusan yang berbeda dengan umumnya para aktivis harakah, bahkan kalangan yang selama ini menolak demokrasi sekalipun.

Tidak hanya sumpah yang membuat saya (terpaksa) percaya, namun juga aktivitas sang teman juga tidak bisa membuat saya bergeming. Sebagai pegiat hisab dan rukyah, dia tidak dilatih untuk berhati-hati sehingga amat tidak mungkin berdusta. Amat cacat bila ia menelikung berita ini, sementara aktivitasnya selaku pemandu umat dalam penentuan Ramadhan, misalnya, mengharuskan ia jujur dan transparan.

Berita itu jelas mendekati derajat dipercaya, meski harus disikapi berhati-hati. Ada kalangan di HTI, khususnya di Kota Pelajar, yang secara kalkulasi dan pertimbangan agama, menetapkan Jokowi sebagai yang ‘utama’ demi kelangsungan syariat Islam. Sekali lagi, ini belum tentu mewakili sikap kolektif HTI. Menariknya, pelaku mendukung Jokowi bukan aktivis bawah, melainkan ‘petinggi’. Respons dingin koleganya yang terkesan berlapang dada jelas menarik. Tidak lazim kalangan yang sengit pada demokrasi justru diam tenang manakala ikhwan sejamaahnya menabrak kredo harakah.

Sebagai manusia berpolitik, aktivis HTI bisa saja punya perhitungan tersendiri, baik bagi Islam, Indonesia, atau sekadar kelompoknya. Kita tidak tahu isi hati para aktivis HTI yang memilih sadar Jokowi. Menariknya, mengapa para aktivis yang mau masuk bilik suara saat pemilihan presiden itu tidak mendukung Prabowo Subianto segalibnya dukungan banyak aktivis harakah Islam di luar HTI? Saat pegiat Salafi dari pelbagai faksi mau berduyun-duyun mendukung Prabowo dengan ‘kedaruratan’, sebagian aktivis HTI memilih berbeda.

Posisi HTI memang sering ‘menarik’ ditilik. Ibarat pelangi, HTI seolah tidak mau berada dalam spektrum cahaya yang sudah menjadi takdir warna-warni ciptaan Allah ini. HTI ingin berada dan berbeda diri sesuai kalkulasi yang (mungkin) sudah ditimbang masak-masak. Entah mengapa, kerap kali kulikan HTI kadang membeda diri dari yang sudah diteduhi sebagai harapan sebagian (besar) umat. Soal oknum aktivis HTI yang memilih Jokowi hanya contoh kecil saja.

Saat ini, pengguna internet dibuat gusar bercampur bingung dengan berita resmi dari laman HTI yang mempersoalkan hubungan dagang Turki dan Israel. Persoalan Turki-Israel dilihat HTI secara hitam-putih tanpa memberi ruang adanya jalan tafsir lain sebuah perjuangan ekonomi, misalnya. Nuansa dan aroma yang dihadirkan dari tulisan laman tersebut memang bernada tidak puas. Bukan sekali ini Turki di bawah kendali Erdogan dari kalangan islamis dinyinyiri HTI. Bila perjuangan Turki saat mengawal Mavi Marmara saja dipandang sebelah mata sebagai konspirasi menurut versi HTI, terlebih lagi perdagangan Turki-Israel yang praktis berstatus resmi. Jadilah, ini semacam bahan untuk ‘menasihati’ Erdogan, bahkan mungkin para pendukungnya di tanah air kita.

Turki, bersama Arab Saudi, tampaknya sudah ‘takdir’ untuk selalu ‘dikaji’ HTI. Dicari-cari mana yang patut diluruskan, dibenahi, dan dikritisi. Soal marhalah bertahap dari kalangan yang dikaji tidak mau dipusingkan. Rasa syukur ada yang mau ‘kotor’ masuk demokrasi atau bersiasat (terpaksa) menjalin mitra dengan musuh Islam, tak pernah tampak. Semua bak hitam. Saya yakin, dalam hati aktivis HTI sejatinya mau mendakui adanya kebaikan pada saudara seimannya. Sayang, keadilan menilai semacam ini belum begitu digalakan. Adil menilai kawan sebelum berhujah pentingnya khilafah sejatinya sebuah keindahan persatuan tersendiri, yang bisa meraih simpati banyak pihak alih-alih terus paksakan taktik dari otak sendiri.

Respons HTI pada gilirannya melahirkan penyikapan yang simplifikasi. Sebagian dari mereka yang sering ‘dikoreksi’ seolah ‘frustrasi’ dengan pola HTI yang lumayan akurat ‘menguliti’. Tidak heran ada kesan semacam ini: “Mungkin tidak hanya di sini, tapi di seluruh penjuru Bumi yang mendarasi karya-karya Syeikh Taqiyyudin an-Nabhani akan berserupa begini.” Semoga saja ini sekadar hasil tafsiran temporer, dan bukan sikap permanen dalam menilai HTI.

Sudah waktunya bagi HTI secara jamaah untuk mau menghargai orang lain. Jangankan sesama Muslim, orang di luar Islam saja perlu diapresiasi atas kontribusi dan karya nyatanya yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Tarbiyah, Salafy, NU, adalah saudara seiring. Ada perbedaan, entah lebar ataupun sempit, tapi ini tidak berarti melupakan persatuan. Selalu membedakan diri jelas tidak elok demi terwujudnya kesatuan umat. Saat kalangan harakah lain repot-repot mengumpulkan dana untuk saudaranya di Palestina, HTI pun bisa berbuat dengan cara serupa atau bahkan lebih baik lagi. Diam sebagai bentuk berbagi peran dengan harakah lain, akan lahirkan emas, alih-alih menyindiri saudara seiman yang rela berpanas ria.

Bagaimanapun juga, HTI punya kelebihan. Misalnya, mau mengkaji hal-hal berat tentang pemikiran, ketika banyak aktivis harakah lain menikmati kepraktisan amalan. Tinggal bagaimana kelebihan ini tidak membuat jumawa untuk seolah berada di menara gading yang membolehkannya menjadi penilai tapi lupa—saat yang sama—meniliki besarnya amal diri bagi umat ataupun bangsa. Jadi, jangan sampai publik awam seolah bingung saat tema persatuan dan kesatuan umat digaung-gaungkan di mana-mana, ternyata masih ada anasir menyempil yang selalu menyalah-nyalahkan.***

*sumber: Islampos.com (6/2/2015)

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Majalengka | Dari Kota Angin, Bekerja untuk Indonesia )|(

Banjir Solo, PKS Desak Pemkot Cepat Tanggap


Solo (20/2) - Hujan deras yang mengguyur Kota Solo sepanjang Kamis (19/2) sore hingga malam, membuat sejumlah wilayah di Solo terendam banjir. Dari pantauan tim Kepanduan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Solo, banjir sudah mulai menggenangi tiga wilayah kecamatan yaitu Pasar Kliwon, Serengan dan Jebres. Sementara ratusan warga mulai mengungsi.

Anggota Fraksi PKS DPRD Solo, Quatly Alkatiri usai memantau langsung lokasi banjir mengatakan, pihaknya segera mengadakan koordinasi dengan pihak Departemen Pekerjaan Umum (DPU) di pintu air Demangan. Menurutnya, perlu segera ada penanganan dari pemerintah kota (pemkot) untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak seperti nasi bungkus, tenda darurat dan dapur umum.

"Sekarang yang diperlukan penanganan segera dari pemkot adalah nasi bungkus untuk warga yang mengungsi, baik untuk sarapan, makan siang dan seterusnya. Dapur umum dan tenda-tenda darurat harus segera disiapkan," kata legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Pasar Kliwon ini.

Quatly juga meminta kesadaran warga yang rumahnya terendam banjir untuk segera mengungsi demi keselamatan.

"Di timur Tanggulasih ada beberapa kepala keluarga (KK) yang masih terlihat belum mengungsi. Untuk keselamatan, alangkah baiknya segera mengungsi saja," tambahnya.

Lebih lanjut, Quatly menginginkan penanganan cepat dari pihak-pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hal ini menimbang kesehatan dan keselematan masyarakat, karena banjir rawan dengan penyakit.

"BPBD mesti tanggap darurat dan segera action demi keselamatan dan kesehatan warga," pungkasnya.

Sumber: Humas PKS Solo / pks.or.id
Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Majalengka | Dari Kota Angin, Bekerja untuk Indonesia )|(

Kekasih Allah "Manusia Langit" yang Tak Dikenal

Sekali-kali jangan pernah merasa diri lebih tinggi, lebih besar, lebih fakih, lebih berilmu, dan lebih banyak amal, karena kita tidak tahu orang di sekeliling kita. Bisa jadi dia biasa-biasa saja, berpenampilan sederhana, bahkan di masyarakat hanya dipandang sebelah mata, tetapi ternyata berhati mulia dan termasuk pribadi bertakwa di sisiNya.

Ada cerita indah dan menarik, sekaligus menakjubkan, ketika membaca kisah yang dituliskan ustadz Salim A Fillah dalam bukunya "Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta" pada halaman 448-449.


Tulisnya dalam buku itu, "Suatu malam, Ustaz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur."


Ustadz Salim melanjutkan,“Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni (1) jangan pernah menyakiti dan (2) hati-hati memberi makan istri."


“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustaz Muhammad, "Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?"


Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini. Beliau ini Hafizh Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Alquran lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.


Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita. Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya. Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan. Misalnya ada yang berkata,“Pak, terminal Rp 5.000 ya." Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak."


Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif. “Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya." Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.


Gusti Allah, manusia macam apa ini.


Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Setop. Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafizh Alquran semua. Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah.


Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesori, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana. Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis. Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.


Ustadz Salim melanjutkan,“Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr Sardjito keesokan harinya, kami menangis. Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal."


Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan "manusia langit" yang tidak kita kenal.

Penulis: Tim @SedekahHarian/AB


Sumber: beritasatu.com

Jika postingan ini bermanfaat, bantu kami menyebarkannya :

)|( PKS Majalengka | Dari Kota Angin, Bekerja untuk Indonesia )|(